Thursday, June 10, 2021

Review: BLP X Avoskin Multipurpose Tinted Sunscreen | Shade: Honey

June 10, 2021



Holla...


Meskipun senang bangeeet dandan walaupun ngga ke mana-mana dan di rumah aja. Sering juga sih kadang mager untuk lanjut moles-moles muka setelah step skincare. Apalagi untuk hal complexion. Maunya tuh "triiing" complexion udah on, setelah pake sunscreen.


Jadi begitu tahu ada yang namanya tinted sunscreen. Ya jelas, auto masuk wishlist teratas. Apalagi merupakan kolaborasi dari dua brand yang terkenal jagoan di bidang masing-masing. Yang satu expert di makeup, yang satunya lagi skincare.


Lalu, apakah memang sejagoan itu? Worth the hype-kah?


Nih.. Nih.. Aku akan berbagi ulasannya di sini ya.


Hybrid Tinted Sunscreen Dengan Star Ingredient Yang Banyak Digandrungi




BLP X Avoskin Multipurpose Tinted Sunscreen pertama kali launch pada tanggal 26 April 2021 kemarin. Produk yang berhasil menyedot perhatian dan antusiasme para beauty enthusiast ini, merupakan produk limited edition. Tapi sampai kapan pastinya sih aku ngga tahu.


Meskipun memiliki tint, namun sejatinya ini adalah produk tabir surya. Jadi memang fungsi utamanya adalah skincare. Dengan klaim SPF 50/PA++++.


Diformulasi untuk daily use dan fix to all skin type. Sehingga diracik sedemikian rupa agar memberi kenyamanan pemakainya. Non comedogenic, dermatologically tested,  dengan acne care, menghidrasi kulit  serta dengan oil control.




Itu sebabnya star ingredientsnya adalah: Niacinamide, Squalane Oil, Centella Asiatica & BHA. Merupakan kandungan skincare yang banyak digandrungi, bukan?


Info produk


Netto: 30 g


Specially Made By: PT. Cosmax Indonesia For PT. Lizzie Parra Kreasi


Price: @189.000 IDR (tersedia juga size 5 gram = @56.000 IDR)


Where To Buy: Official website BLP, Tokopedia & Sociolla.


Ingredients




Kemasaan Khas BLP Yang Slim & Travel Friendly


Kemasaannya lebih mengarah ke ciri khasnya BLP. Box serta botol plastik dengan nuansa beige-putih yang slim.


Boxnya simpel dan keterangan serta deskripsi produknya cukup jelas dan lengkap. Ingredients, kode BPOM, how to use, dll.




Pas lihat di IGnya, mikirnya bakalan bulky (entah kenapa aku lebih mengharap dia gendut aja, karena sugestinya isinya banyak wkwk). Tapi bagusnya travel friendly.


Pumpnya lumayan enak sih, ngga keras. Tapi jangkauannya pendek. Harus pencet berkali-kali tiap mau pake. Awalnya aku ngerasa bolongannya terlalu kecil. Tapi lama-kelamaan terbiasa dan udah luwes.


Tekstur Cukup Cair & Mudah Diratakan


Untuk teksturnya, di level medium. Kelihatan cukup encer (untuk kategori sunscreen yang pernah aku temui), tapi ngga semudah itu melelehnya.




Sebagai skincare, dia nyaman. Mudah ngeblendnya. Tinggal oles-oles pelan atau tap-tap aja. Ngga perlu kerja keras sampai ngegosok apalagi ngegusrek wajah. Jangan juga sih ya bok.


Cepat ngesetnya juga, asal... pastiin skincare sebelumnya udah ngeset. Kalau ngga, memang jadi peeling, ngeblock atau berasa greasy dan kelihatan shinny banget.


Formulanya Nyaman Untuk Kulit Keringku


Karena ada Cica, BHA, Niacinamide dan Squalane. Sebagai pemilik dry skin, aku merasakan setiap pake ini ada efek soothingnya. Berasa banget kulit jadi lebih tenang, meskipun jerawatan, ngga memperparah radangnya.


Lembabnya juga pas. Kulit juga terasa terhidrasi sepanjang hari. Dari awal pakai di pagi hari, sampai sorenya ngga ada terasa kulit kayak ketarik atau kaku. Karena ya itu tadi, efek hydratingnya memang nampol di kulitku. Nyaman banget, seharian juga tanpa ngerasa oily atau greasy.


Lalu, Coveragenya Bagaimana?


Sebagai complexion, coveragenya memang sheer to medium (itupun layernya harus beberapa kali). Bekas jerawat kemerahan masih ketutup. Kalau scar dan kehitaman ya memang masih kelihatan.




Tinted sunscreen ini tidak mengekspose pori-pori. Ngga ngeblurin juga. Pori-pori kelihatan lebih apa adanya dan natural aja sih.




Namun yang aku takjub, dia memperlihatkan tekstur kulit. Tapi dengan goresan yang terlihat lebih halus. Kulit terasa lebih real namun tetap aesthetic. Haha.


Dari awal, aku udah memperhatikan di akun Instagram mereka. Foto para muse sunscreen ini, kalau di zoom kulitnya kelihatan real banget. Garis-garis dan tekstur kulitnya tetap terlihat namun dalam artian yang indah.


Ini tuh ngasi makna dalem untuk tetap merawat kulit sekaligus menerimanya apa adanya. Dari coveragenya aja, campaignya self lovenya dapet. Uuuu.


Aromanya Aman Di Penciuman


Tidak ada aroma harum yang terendus penciumanku. Akan tetapi, tidak serta merta ada aroma khas chemical yang menyolok juga. Sejauh ini, aman dan nyaman di hidungku.


Shade: Honey, Bikin Kulit Tan Jadi Lebih Glowing & Segar


Shade Honey ini pas untuk kulitku yang medium tan. Deskripsinya memang medium to tan skin tone. Memang agak oren sih. Tapi ngga bikin kusem.




Honey ini membuat kulit tan lebih glowing dan segar. Eksotisnya dapet. Eaaak.


Meskipun masih ada oksidasinya, naeknya dikit aja kok. Ngga sampai kegelapan ataupun bikin kusam juga. Bagusnya juga dia ngga ninggalin whitecast.


How To Use?


Waktu baru launch, sempat agak simpang siur ya tentang cara pemakaiannya. Ada yang cuma ditap-tap aja di bagian wajah tertentu, ada yang pakai brush atau beauty sponge. Intinya cukup banyak yang mendemokannya seperti memakai foundation.


Eitsss, tapi...


Pihak BLP dari awal sudah menegaskan kalau ini sunscreen dan dipakai sepanjang dua jari. Penggunaannya juga di step terakhir skincare. Setelah moisturizer. Sebagaimana standart penggunaan sunscreen.


*Dijelasin lagi deh ya.. Karena kalau review sunscreen, masih ada aja yang komen: "dipakainya setelah apa?" "mana lebih dulu sama moisturizer?" "pakainya gimana?" --- Padahal udah dijelasin juga disitu. Weekekek.




Jadi baik itu langsung dipoles ke wajah, ataupun di pencet dulu di tangan. Intinya 2 jari ya beb. Tenang aja, seperti yang aku sebut sebelumnya. Ngeratainnya mudah, jadi ngga usah cemas bakalan cemong.


Performanya Bagaimanakah?


Setelah sebulan pakai sunscreen BLP X Avoskin ini, aku menyimpulkan lasting powernya low. Ya wajar sih, karena walaupun tampilannya secara kasat mata kayak foundie, hakikatnya ya dia sunscreen. Jadi cepat pudar dan mudah luntur. Sehingga ini mempengaruhi coveragenya tadi.


Meskipun begitu, efek finishnya yang dewy masih kelihatan dan bikin kulit tetap kelihatan segar. Tapi tetap ya, reapply! Ngga ada nego-nego kalau yang ini.


Apakah maskproof?


Kalau habis dandan langsung pakai masker. Monmaap, cukup transfer.




Tapi kalau mau nunggu setengah jam sampai ngeset sih, transfernya ngga gitu banyak.



*Note ya: sejauh ini (khususnya selama pandemi) aku belum nemu produk yang benar-benar tidak transfer sama sekali di masker. Jadi meskipun dia transfer, toleranku masih sangat tinggi. Akan sangat berbeda penilaiannya bagi yang udah pernah menemukan produk yang sama sekali ngga transfer.


Oia, baiknya sebelum dipake harus shake dulu deh.. Biar shade dan formulanya optimal.


Worth The Hype?


To the point aja deh ya.. BLP X Avoskin Multi Purposed Tinted Sunscreen ini benar-benar inovasi cerdas. Kelihatan banget "diracik" oleh orang-orang yang memang expert di bidangnya.


Memang masih ada beberapa point cons yang aku rasakan selama pakai ini. Tapi bisa dibilang dia adalah penyelamat aku sih cang-cing-cung mau cepat, namum ngotot pengen dapet complexion yang kece. Ibaratnya, dari step skincare-an aja udah jadi complexionnya. Tinggal poles-poles lipstick dan tap-tap blush dikit. Taraaa.


Plus formulasinya nyaaaaaman sekali. Apalagi dapat shade yang pas dan nonjolin warna kulit asliku. Lav deh.


Definisi holy grail, life changing & life saviour dalam satu produk. Wkwk.


Pros


Mudah diratakan

Formulasi nyaman

Efek hidrasinya awet

Shadenya pas dengan warna kulitku

Bikin dandan jadi lebih simpel

Cons


Transfer


Repurchase


Selama produknya masih tersedia, kemungkinan besar iya deh. Karena ngebantu hidupku banget dalam hal perdandanan. Hihi.


Rate


4,5/5


XOXO


Madamabi___

Wednesday, June 9, 2021

#JurnalBulananMadamabi: Mei 2021

June 09, 2021



Holla...


Kayaknya di antara para blogger yang suka bikin blogpost rekapan kehidupan bulanan, aku yang paling leler deh. Haha.


Udah tanggal segini baru naik nih tulisan. Tapi ya sudah. Anggap aja ngga apa ya beb. Yang penting ada usaha untuk mempertahankan konsistensi ya bok.


Oke! Pembelaan. Hihi


Diajarin Syukur Nikmat Saat Sakit


Tepat satu hari sebelum lebaran, diberi nikmat sakit sama Tuhan. Demam dan kepala sakit banget. Kayaknya sepanjang hidup, itu deh kondisi sakit aku yang bikin badan lemes banget. Sakitnya ngga parah. Tapi kok badan rasanya lemeeees banget nget nget.


Biasanya kalau sakitpun, masih bisa ngapa-ngapain. Ini energi kayak disedot vacuum cleaner bok.


Terus. Karena tubuh ngga berdaya, beberapa hari itu aku sama sekali ngga ngapa-ngapain. Masak ngga. Beres-beres rumah nggak. Boro-boro bikin konten. Benar-benar jauh dari aktivitasku biasanya.


Pola hidupku saat itu hanya makan-tidur-makan tidur deh.


Aku jadi tersadar. Meskipun selama ini aku sadar bahwa menjadi Ibu Rumah Tangga (beserta segala aktivitas mengurus rumah) itu adalah pilihanku sendiri. Kadang terbersit perasaan capek lah. Mager lah. Manusiawi memang. Tapi tetap aja ngga boleh kebiasaan.


Nah, pas sakit kemarin diingatkan. Bahwa ternyata hal yang kadang bikin capek dan mager itu, adalah sesuatu yang melumasi mesin semangatku.


Ternyata aku memang butuh untuk melakukan semua itu. Karena aktivitasku selama ini memang diinginkan oleh tubuhku.


Mungkin harus lebih me-manage-nya aja. Karena emang kadang aku kalau udah beres-beres rumah suka lupa makan. Tapi ngopi ngga ketinggalan. Hihi. Si badan lagi protes kali ya atas kelakuan awur-awuranku.




Lalu... Juga lagi diajarin untuk menjalani hidup sepenuh hati. Melakukan apapun itu dengan sungguh-sungguh dan rasa syukur. Karena ada masa dimana itu ngga bisa kita lakuin, meski hanya sebentar.


Mmmm.. Ternyata nikmat sehat itu ngga main-main.


Saat sakit aku benar-benar rindu kerempongan harianku. Ya ngurus anak, masak, beres-beres, moto-moto flat lay, nulis blog dan bikin konten IG. Ketika ngga berdaya, kita jadi semakin tahu apa yang memang ingin kita lakukan.


Kangennya Ditempeli Anak Terus


Alhamdulillah, aku dikelilingi circle yang kooperatif dan suportif. Selama sakit, anakku dirawat oleh kakek neneknya di rumah mereka. Jadi aku hanya fokus untuk istirahat aja.


Itu adalah kali pertama aku ditinggal bermalam oleh anakku.


Rasanya?


Ugggh, kangen!!


Kayak ada yang kosong. Mellow banget. Tapi, memang lebih baik dia di sana dulu. Karena kondisiku lemes banget. Akan ngga maksimal kalau dia bersamaku, pada saat itu. Yang ada malah screentimenya nanti aku lamain, agar aku bisa istirahat. Kalau bersama kakek-neneknya dia bisa punya aktivitas yang lebih beragam.


Meskipun hari pertama itu aku udah ngga tahan, mewek. Minta suami untuk jemput anaknya. Ngga usah nginap. Tapi kata suami, biarin aja anaknya di sana dulu. Agar aku bisa istirahat total dan cepat pulih. Karena kasian juga anaknya, kalau bersamaku, yang ngurus diri sendiri aja belum kuat. Iya juga sih, aku pikir.


Itu jadi pecutan untuk aku agar lebih optimis dan semangat untuk sembuh. Karena meskipun badan remuk, kalau anak ngelendot sampe nimpa-nimpa dan bikin Mamanya penyet. Tetap aja, ditempeli anak itu precious moment.


Rasanya, ngga apa deh ditimpa sampe penyet. Toh, juga dia bukan melakukannya sebagai tindakan abuse. Tapi karena memang mau selalu dekat denganku sebagai Mamanya. 


Tidur di perutku. Peluk-peluk sampe engap. Ngelendot gemes yang sering kali sikunya nekan lengan atau pahaku sampe ngilu.


Rasanya tuh bersalah banget. Karena suka bete kalau badan udah ngilu, karena dihujam bobotnya yang udah ngga ringan lagi itu.


Belum lagi rindu sama asem-asem kecut keringetnya lagi. Duh! Semoga kalaupun ntar sakit lagi, aku tetap kuat untuk membersamai anakku ya. Karena pisah sama anak tuh ngga enak kali.


Buk-ibuk semuanya... Sehat-sehat ya. Tetap atur pola istirahatnya. Tidur cukup. Makan enak. Haha.


Dilema Milih Sekolah


Bulan Mei kemarin juga, kami akhirnya mendaftarakan anak kami sekolah. Ada beberapa kebimbangan dan dilema yang dihadapi. Apalagi berbicara sekolah pada situasi di tengah pandemi begini. Lebih banyak yang harus disiapkan dan dipertimbangkan.


Aku cukup mudah untuk menentukan apa yang ingin aku jalani dan pilih. Tapi untuk urusan anakku, aku merasakan kalau aku sangaaaaaat hati-hati dan mikir beribi-beribu kali untuk mengambil keputusan terhadap hidupnya. Proses menimbang-nimbangnya panjaaang banget.




Yaa.. Semua itu karena aku ingin dia mendapatkan yang terbaik. Memang semuanya ngga pernah bisa sempurna seratus persen. Tapi setidaknya aku berusaha memikirikan semuanya dengan matang, beserta kosekuensinya yang Insyallah bisa aku atasi nantinya.


Naluri orangtua lah ya bok. Mau anaknya hidup damai, bahagia sentosa dan baik kualitas hidupnya. Siapa yang berani menyalahkan? LOL.


Kemarin itu kami sudah menyiapkan tiga opsi sekolah. Tapi yang pilihan ketiga ini, posisinya memang benar-benar cadangan.


Persaingan ketat berada pada sekolah A dan B. Masing-masing punya keunggulan dan kekurangan. Tapi setelah melihat-lihat sekolahnya secara langsung. Ngobrol dengan kepala sekolah dan guru. Berembuk dengan suami, akhir kita mantap memilih sekolah A.


Masalah juga muncul dalam hal pemilihan kelas. Sebenarnya, anakku itu rencananya bersekolah tahun lalu. Tapi karena pandemi, kita undur. Karena itu, aku pikir tahun ini dia udah bisa ke TK B. Ternyata berdasarkan aturan saat ini, usianya belum cukup untuk TK B. Masih harus TK A dahulu.


Lagipula, karena nanti ketika SD juga akan masuk ke Yayasan Sekolah yang sama. Usianya belum cukup untuk SD di situ, kalau dipaksakan langsung loncat ke TK B.


Akhirnya nurut aja sama aturan yang berlaku. Lagi pula aku juga menyetujui kalau usia anak mempengaruhi mental dan kesiapannya. Sekolah bukan perkara cepat-cepatan kan?


Bulan Istirahat


Seperti rentetan cerita di atas. Selain karena sakit dan sibuk ngurusin daftar sekolah anak. Kehidupan di bulan ini agak selow.


Kerjaan yang DL bulan ini, dikerjain pelan-pelan. Yang bulan depannya, ngga dicicil-cicil. Biasanya aku suka nyicil kerjaan, biar ngga keteter. Bulan ini lagi puk-puk-in diri biar ngga gitu ambi dan ngga usah lasak dulu. Haha. Lagi dikasi waktu istirahat ya nikmatin aja. Enjoy.


Bahkan kalau biasanya setiap hari ada aja to do list-nya. Akhir bulan kemarin aku biarin aja si to do list kosong untuk sementara.


Kalau biasanya sengaja diem karena ngga mood. Kali ini tuh bukan perkara mood. Malah moodnya lagi on fire banget. Ini tuh permintaan badannya yang lagi mau lenyeh-lenyeh. Ya udah deh...


Dengarkan tubuh kita.


Akhirnya Ngedrakor Lagi...


Jadi, sisa bulan Mei yang santai itu aku habiskan dengan aktivitas ringan. Selain rutinitas sebagai Ibu dan aktivitas rumahan (yang juga dibikin lebih longgar dari biasanya).


Memutuskan juga untuk kembali nonton drakor. Padahal sebelumnya aku sempat mogok dan males. Karena terakhir nonton, salah pilih drama. Agak menye-menye dan malesin. Ngga nyaman banget nontonnya.


Tapi karena dapat rekomendasi drakor yang katanya oke. Aku coba nonton. Ternyata aku suka. Hehe.


Apa itu?


Yasssss!


Because This Is My First Life.


Hahaha...


Sangking suka dan berkesannya, sampai aku tulis juga reviewnya di blog ini.




Yang mau baca, boleh ya DI SINI. Cukup panjang lebar aku bahas di situ.


--


Itu dulu deh yang bisa aku rekap untuk kehidupanku di bulan Mei. Ketemu lagi di #JurnalBulananMadamabi: Juni nanti ya.


XOXO


Madamabi___

Wednesday, June 2, 2021

Because This Is My First Life

June 02, 2021



Holla...


Bulan ini tuh tadinya udah malas nonton drakor. Karena terakhir kali nonton, mogok di beberapa episode terkahir. Kayak bertele-tele dan ngga nyaman lagi ditonton.


Terus, karena ngelihat storynya Mba Anggi, tergoda untuk nonton Because This Is My First Life (BTIMFL) yang memang udah masuk watchlist.


Nah... Kalau setelah nonton atau baca buku. Lalu aku sampai bikin blogpostnya, pastilah ini jadi sesuatu yang bikin baper dan susah move on.


Haha..


Kenapa aku sampai baper dan susah move on?


Nih, aku ceritain di sini ya.


Lebih Dari Sekedar Kisah Kawin Kontrak




Yoon Ji Hoo (Jung So Min), seorang asisten penulis drama yang berusia 30-an. Harus memasrahkan rumah yang ia cicil, demi sang adik laki-laki yang akan memiliki anak.


Disaat ingin mempertahankan haknya, ia menyadari telah kalah pada babak awal permainan. Keluarganya yang menjunjung tinggi budaya patriarki, tengah berbahagia karena calon keponakan Ji Hoo adalah laki-laki.


Dia sadar benar, bahwa kekuatan haknya sebagai pencicil rumah telah dikalahkan oleh jenis kelamin calon keponakannya. Tidak ada jalan lain. Dia harus meninggalkan rumah tersebut.


Di tengah keresahannya yang tidak tahu harus ke mana. Ji Hoo mendapat informasi dari sahabatnya, Yang Ho Rang (Kim Ga Eun), bahwa ada rumah yang bisa ditempati. Tanpa harus membayar deposit, yang merupakan salah satu kendala Ji Hoo dalam menemukan tempat tinggal. Sewanya juga murah, tempatnya nyaman. Hanya saja, dia harus melakukan beberapa pekerjaan rumah. Mengurus kucing pemilik rumah dan memilah sampah rumah tangga yang akan di daur ulang.


Ji Hoo menyanggupinya.


Meskipun pada awalnya terjadi kesalahpahaman. Dia pikir, sang pemilik rumah adalah seorang wanita. Ternyata, seorang laki-laki. Yaitu Nam Se Hee (Lee Min Ki), karyawan perusahaan Start-Up yang bergerak di bidang IT.


Se Hee harus mencari housemate untuk membantunya meringankan beban biaya cicilan rumah. Juga... Menjaga kucing kesayangannya. Yang terakhir emang agak "rada-rada" sih untuk alasan mencari penyewa rumah. Haha.


Setelah saling mengetahui bahwa terjadi kesalahpahaman. Ji Hoo paham jika dia harus meninggalkan rumah Se Hee.


Se Hee juga sadar, jika dia harus kehilangan penyewa yang sangat cekatan dan memiliki skor tertinggi di antara penyewa lainnya. Iya.. Namanya juga agak freak (haha) penyewa juga dibikin skor bok.


Malangnya, Ji Hoo yang terluntang-lantung, mengalami kejadian tidak mengenakan di tempat barunya. Sebuah ruang kecil semacam gudang di tempat kerja barunya. Di situlah ia mengalami percobaan pelecehan sexual dari rekan kerjanya. Kejadian itu membuatnya kabur, dan hingga akhirnya... Sampai di rumah Se Hee.




Dari peristiwa itu, meskipun tidak tahu betul apa yang terjadi. Se Hee semakin yakin bahwa mereka saling membutuhkan. Ji Hoo butuh tempat tinggal. Dia butuh Ji Hoo.. Ngg.. Nganuu.. Untuk ngurusin kucingnya. Wkwk.


Kesepakatan menikah kontrakpun akhirnya deal. Meskipun cukup mengemparkan keluarga dan teman mereka. Namun Ji Hoo dan Se Hee tidak memiliki pilihan lain untuk problem mereka saat itu.




Lalu... Apakah semuanya menjadi lebih baik?  Benarkah kawin kontrak ini solusi bagi mereka? Atau malah...


Nah itu dia kalian harus nonton. Hihi


Banyak Banget Hal-Hal Yang Relate


Seperti yang pernah aku ceritain di blogpost #JurnalBulananMadamabi, aku newbie lah di dunia drakor. Tapi aku menilai kalau banyak banget persamaan problem orang Korea dengan Indonesia. Secara kultur memang beda. Namun kehidupan sosial kita dengan mereka banyak banget cocoknya.


Apalagi drama ini isinya tentang "isi kepala generasi muda yang berjuang dalam hidup". Fase-fase yang semua orang juga mungkin ngalamin. Jadi ngga bisa dihindari, banyak sekali hal yang relate dan bikin nyaman nontonnya. Karena paham dan seperti masuk ke dalam ceritanya.


Kayak kisah Ji Hoo yang merupakan generasi yang lahir pada akhir tahun 1980an. Masa di mana negara sedang jaya-jayanya dan ekspektasi kehidupan yang mudah dan sukses sangat besar. Eh ternyata harus mengalami yang namanya krisis. Ini juga aku alami. Lahir di tahun yang berdekatan dengan Ji Hoo dan harus mengahadapi krisis tahun 1998, dan menjalani hidup di negara yang sedang berjuang untuk maju. Nasib dan masa depanpun seakan terseok-seok, karena turut menghadapi adaptasi dan perkembangan zaman.


Mempertanyakan Sistem Patriaki Dengan Cara Yang Santai


Cerita dibuka oleh narasi dari Ji Hoo tentang bagaimana dominasi kaum pria sangat kental di keluarganya. Bahkan ketika ulang tahunpun, dia tidak mendapat privilege untuk meniup birthday cakenya sendiri. Selalu diambil alih oleh adiknya.




Sampai akhir ceritapun, akan kental sekali nuansa mempertanyakan budaya patriaki ini. Gimana Ji Hoo ngerasa keperihan dan disulitkan atas ketimpangan gender ini. Tapi bukan dalam artian yang frontal dan mengecam gitu. Lebih ke seperti tanda tanya yang nadanya mengarah ke "kok gini amat ya?".


Menurutku cukup santai sih. Karena memang relate dan sinkron dengan kenyataan.


Akan banyak scene yang menunjukan bahwa memang di Korea, perempuan tetap menjadi warga kelas kedua. Meskipun dari kalangan berpendidikan ataupun ekonomi mapan. Baik tinggal di kota, maupun daerah kecil.


Budaya patriaki ini juga ditunjukan dengan jelas menjadi sumber kerugian. Contohnya di keluarga Ji Hoo. Dia harus mengalah kepada adiknya. Memang adik Ji Hoo digambarkan baik kepadanya. Masih respect lah sama kakaknya. Tapi tetap aja, Ji Hoo juga jadi korbannya kan. Karena akar masalahnya terletak pada budayanya. Orang-orangnya mungkin ngga punya maksud jahat, tapi budayanya yang memang nyakitin.


Lalu, nasib istri setelah menikah yang tidak bisa lagi menjadi dirinya sendiri dan harus mengubur impian. Ini terlihat dari karakter Ibu Ji Hoo, Ibu Se Hee dan tuntutan keluarga kepada Ji Hoo ketika dia sudah menikah.


Bahkan Ibu Ji Hoo sampai sengaja memohon kepada Se Hee di hari pernikahan mereka. Agar kelak Se Hee tetap membiarkan Ji Hoo meraih impiannya, yaitu menulis drama.


Ibu Ji Hoo dan Se Hee terlihat sekali seperti tidak berdaya mengungkapkan pendapat dan perasaannya di hadapan keluarga. Mereka hanya sebagai penyambung suara pihak laki-laki.


Begitu Ji Hoo ketika menikah dengan Se Hee dianggap harus meninggalkan pekerjaannya. Harus memikirkan anak. Harus mengabdi pada keluarga suami (sesimpel beres-beres di rumah ortu Se Hee).


Tapi seperti yang aku bilang, bias gender ini dipaparkan cukup santai. Nunjukin kejadian-kejadian yang berhubungan aja. Ngga ngotot. Namun emang relate dan kerasa sih. Apalagi di Indonesiapun masih kuat banget kan budaya patriakinya? Jadi kerasa banget emang.


Persahabatan Dengan Karakter Berbeda Namun Tidak Menghakimi


Persahabatan tokoh utama dengan sidekicknya tuh selalu jadi favoritku. Rasanya kalau tokoh utama ngga ada teman dekatnya tuh kayak ada yang kosong.


Di serial ini, Ji Hoo Memiliki dua sahabat yang berbeda karakter dengannya.


Yang Ho Rang yang ceria. Memiliki mimpi menjadi ibu rumah tangga dan tinggal satu atap dengan mertua. Baginya, hidupnya akan dia abdikan sepenuhnya untuk membangun keluarga yang bahagia.


Woo Soo Ji (Esom). Perempuan independent dengan karir yang mapan. Menghindari komitme. Karena latar belakangnya sebagai anak yang dibesarkan oleh single mom, yang juga disabilitas.


Kelihatan kontras banget kan, dengan Ji Hoo yang polos, naif, namun nekat pada moment tertentu.




Meskipun karakter dan jalan hidup yang diambil berbeda. Namun para ciwi-ciwi ini saling memahami. Memang, ada moment  bingung dan ketidak setujuan. Tapi pada akhirnya mereka fine-fine aja dengan itu dan tetap saling mendukung.


Begitupun dengan persahabatan para cowoknya. Se Hee, Ma Sang Goo (Park Byung Eun) dan Sim Won Seok (Kim Min Seok). Kalau para lelaki-lelaki ini, mereka memang ngga fix sahabatan bertiga. Tapi Sang Goo yang jadi penghubung. Se Hee dekat dengan Sang Goo. Sang Goo dekat dengan Won Seok.




Memang pada akhirnya ketiganya sering menghabiskan waktu bersama. Ketiga laki-laki ini juga memiliki karakter dan problem yang berbeda-beda. Tapi bisa saling support dan respect.


Zaman sekarang tuh ya, sahabatan mudah. Tapi ya tetap, saling respect di saat pilihan dan jalan hidup berbeda itu susyeh bok. Makanya aku suka dengan cara karakter-karakter ini membangun persahabatan mereka.


Mendeskripsikan Pernikahan Dengan Konsep Realistis dan Kekinian


Dalam drama ini, banyak sekali dialog yang aromanya mempertanyakan arti dari pernikahan.


Meskipun kedua tokoh enggan dan masih rancu dengan konsep pernikahan. Akan tetapi, drama ini meluruskan arti pernikahan yang realistis. Bukan mengecam. Tidak juga lantas menyetujui sistem yang ada.




Tapi mendeskripsikan pernikahan dengan realistis. Bahwa yang terjadi dan dipahami orang saat ini tuh konsep pernikahan turun temurun. Padahal sejatinya pernikahan itu sifatnya personal antar pasangan itu sendiri. Kita ngga harus pakai template yang sama dengan para tetua kita ataupun orang lain.





Meskipun memang akan dianggap aneh dan berpotensi menjadi buah bibir. Tapi balik lagi, pernikahan kita. Ya punya kita. Aturan kita.


Aku sih, yes!


Drama Ini Mencontohkan Definisi Hubungan Yang Sehat, Bukan Hanya Dalam Hal Asmara


Di drama Because This Is My First Life. Kita akan melihat beberapa jenis relationship.


Bukan hanya dalam hal asmara. Tapi juga relationship lain. Seperti persahabatan dan dunia kerja.


Kalau persahabatan udah aku bahas duluan ya. Gimana para karakter membangun persahabatan yang supportif meskipun tujuannya berbeda-beda.


Kalau hal asmara, bisa dilihat drama ini menekankan banget bahwa hubungan yang sehat itu saling memenuhi satu sama lain. Memahami satu sama lain. Saling respect.


Seperti Ho Rang dengan Won Seok yang meskipun terpaut berbedaan usia (di mana yang perempuan lebih dewasa), tetap saling mengisi satu sama lain.





Sang Goo yang mampu memahami kondisi Soo Ji. Serta Soo Ji yang pada akhirnya memahami ketulusan Sang Goo.


Se Hee dan Ji Hoo yang mantap menghadapi tatapan aneh sekitar mereka (terutama orangtua masing-masing).


Lalu dalam dunia kerja juga ditunjukan contoh dari lingkungan kerja yang sehat serta yang toxic.


Yang sehat diwakili oleh Sang Goo yang merupakan CEO perusahaan Start-Up yang sangat berusaha untuk menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan hangat bagi karyawannya.


Sedangkan lingkungan kerja yang toxic, bisa dilihat dari interaksi Soo Ji dengan rekan-rekan kerjanya. Dimana Soo Ji kerap menjadi bulan-bulanan (yang lekat dengan aroma sexual harassment) dari rekan kerjanya yang didominasi oleh pria.


Begitupun dengan rekan kerjanya yang perempuan, tidak turut membantu. Malah ikut menggunjing dirinya. Bye, women empower women. Hiks.


Karakternya Pas & Acting Pemainnya Ciamik


Pengkarakteran tokoh-tokoh di sini juga pas. Ciri-cirinya menggambarkan watak masing-masing. Oke banget tim castingnya. Detail banget, mulai dari ciri fisik, mimik sampai stylenya, pas dengan karakter.


Acting dari aktor/aktrisnya juga cakep. Bisa membawa karakter mereka dengan baik. Karena mostly diramaikan oleh pemeran yang memang udah malang melintang di dunia seni peran.


Semula sih aku ngga ekspektasi apa-apa sama actingnya Jung So Min. Karena pernah lihat acting dia di dua drama sebelumnya. Eh ternyata di sini, dia memainkan perannya dengan apik. Polosnya dapat. Naifnya kenak. Nekatnya juga kerasa. Natural dan real sekali.


Btw, aku baru ngeh kalau pemasangan Lee Min Ki dengan Jung So Min di sini, bibit dari karakter mereka di What's Wrong With Secretary Kim?


Terus, itu si Lee Min Ki keknya tiap main drama/film bisa banget ya bikin mimik yang berbeda. Bunglon banget. Aku meratiin dia di beberapa drakornya, kok seperti orang lain ya? Padahal mah dia-dia aja. Di Because This My First Life, asli kaku beut, belum lagi kayaknya dia ngeset bagian wajahnya juga biar kelihatan kaku dan ngga ada ekspresi. Di The Beauty Inside, ala-ala CEO banget. Di Oh! Master beda lagi looknya. Btw, aku ngerasa dia versi koreanya Fedi Nuril. Mirip ngga sih? Wkwk.


Ada juga karakter namanya Yoon Bo Mi. Ini cewek jauh banget dari karakteristik anak IT yang biasa tomboy. Di sini dia jutek, straightforward dan cute juga. Apalagi looknya yang ala-ala lolita. Gemes banget meskipun mimiknya lancip. Belum lagi ketika dia menganalisa masa depan hubungannya dengan Won Seok. Pake statistik bok. Wkwk. Versi perempuanya Se Hee juga nih. LOL.


Kemudian, aku juga menaruh perhatian lebih sama karakter Soo Ji. Suka banget lihat mulut dan tatapan mata sarkasnya. Tangguh dan percaya diri sekali. Penggambaran perempuan sensualnya juga oke. Kesan sexynya dapat, tapi ngga berlebihan dan tetap elegan. Jadi pengen lihat actingnya si Esom ini di serial/film lain deh.


Lalu, meskipun sebentar. Go Jung Min yang perankan oleh Lee Chung Ah juga bikin terpesona. Anggun, mature dan sweet banget.


Sinematografis Yang Menunjukan Sisi Modern & Damai Kota Seoul


Nonton ini, bikin pikiran pengen tahu kota Seoul gimana tuh muncul. Padahal awalnya aku ngga gitu punya perhatian lebih sama negara ini.


Sinematografisnya indah dan menggambarkan situasi kota Seoul yang modern dan kayaknya damai. Jadi kebawa suasana. Ngebayangin diri berada di sana. Jalan kaki malam.


Pengambilan gambarnya juga santai dan ngga bikin puyeng. Enjoy banget.


Alurnya Santai Di Awal, Tapi Bikin Dag Dig Dug Pada Akhirnya


Alurnya bikin aku nyaman sekali untuk melanjutkan menonton drama ini. Padahal sempat stuck sama drakor dan males. Karena drakor terakhir yang aku tonton agak mehe-mehe dan ngga nyaman dilanjutkan.


BTIMFL ini bikin trauma drakorku hilang. Karena alurnya santai tapi ngga bertele-tele.


Namun... Di akhir emang dibikin gregetan dan mau cepat-cepat ke episode terakhir aja. Gimana enggak, dikira. Bakalan lancar jaya no drama lagi, eh taunya ada aja ya yang muncul!


Hufft.


Scene Favorit Aku Adalah...




Moment-moment  ketika Ji Hoo dan Se Hee naik bus bareng. Sumpah ya. Aku senang sekali dengan scene naik angkutan umum ini. Ya karena bersih juga busnya. Haha. Nyaman banget lihatnya. Romantic vibesnya menyeruak deh perlahan. Lagian zuzur juga, agak bosen bok lihat adegan pasangan di mobil muluk.


Ketika flashback ke masa SMA mereka. Saat itu ada adegan Ji Hoo, Ho Rang dan Soo Ji berantem (masa di mana mereka belum bersahabat akrab). Ketiganya di hukum, tapi hanya Ho Rang yang di tempeleng para guru, karena dia bukan murid yang pintar dan dianggap biang kerok. Kasian sih, tapi kekeh juga pas adegan Ho Rang di tempeleng bolak-balik sampe rambutnya berantakan. Wkwk. Omg, emang actingnya oke juga sih. Ngenes tapi lucunya dapet.


--


So.. Meskipun bukan drama baru. Aku rekom banget sih untuk yang butuh tontonan ringan, sarat makna tapi ngga menggurui. Belum lagi, romancenya juga sweet tapi ngga cheesy. Cuss deh nonton buat ya belum. Tapi kemungkinan besar bakalan baper. Siap-siap ya. Hehe...


XOXO


Madamabi___

Sunday, May 9, 2021

Review: Wardah Instaperfect Hypergetic Precise Black Liner

May 09, 2021



Holla...


Setelah sekian lama, aku setia banget sama si Wardah Optimum Hi-Black Liner. Benar-benar dari awal launch aku pakai. Sekarang saatnya aku move on dulu ke sodaranya, yang juga cukup banyak direview positif ini. Yap, Wardah Instaperfect Hypergetic Precise Black Liner.


Mmm... Kira-kira gimana ya?


Mampukah menggeser posisi si Optimum Hi-Black yang udah lebih 5 tahun (habis-repurchase ya bok, bukan ngga ganti-ganti selama ituh wkwk) aku pakai itu?


Perfect Line, In One Stroke!




Perfect Precision - Super Sharp Line - Pro-Expert




Eye liner yang masih berasa di bawah naungan Paragon ini, memiliki keungulan berupa brush 0.4 mm-nya yang dirancang dapat menghasilkan garis yang presisi dan sempurna.


Tidak hanya itu, produk ini juga dengan high pigment formula yang membuat warnanya menjadi tajam.


Info produk


Netto: 1 g


Produced by: Shanghai Beukay Cosmetic


Manufactured Exclusive For: PT. Paragon Technology and Innovation


Price: @92.000 IDR


Where To Buy: Sociolla, Official Store Wardah (Shopee & Tokopedia)


Packagingnya Rose Goldnya Simpel dan Manis




Aku suka banget sama packagingnya. Box rose gold khasnya Instaperfect, dengan efek hologram (canggih).


Pen-nya yang dusty pink, seolah merepresentasikan wanita feminim namun tegar. Ngaco sih. Tapi aslik, cantik. Namun ngga menye-menye.


Sizenya juga oke dan pas. Nyaman ketika digunakan. Kerasa ringan aja gitu ketika digenggam.


Tutupnya juga mudah ngeklik dan ngga ribet kalau mau ditutup. Apalagi pas buru-buru kan ya...


Brush 0.4 MM Memudahkan Untuk Menciptakan Garis Yang Presisi




Aplikator felt tipnya, tipis dan halus banget. Seperti klaimnya, yaitu 0.4 mm.




Aplikatornya ini termasuk tipe brush menurutku. Karena memang ada helaian brushnya. Bukan spidol yang berupa sponge.




Memang awalnya kayak canggung banget makenya. Karena tipis dan brushnya itu halus. Tapi setelah itu, enak banget dipakai ngelukis garis mata. Gampang deh dipakai untuk bikin garis yang presisi. Lentur dan mudah dikontrol. Garisnya juga tipis banget, tapi sharp. Tinggal dibuild aja sih, mau ketebalannya segimana.


Emang sesuai sama trend eyeliner sekarang yang less is more kan?


Pigmentasi Gimana?


Pigmentasinya jagoan sih. Rata-rata produk yang ditelurkan Wardah ngga becanda kalau soal pigmentasi.


Memang tidak seshiny yang optimum hi black. Tapi warna hitamnya tetap intense dan hidup.


Lasting Powernya Oke Ngga Sih?


Daya tahannya termasuk oke. Untuk ukuran kelopak mataku yang oily, dari pagi sampe sore masih ada kelihatan. Padahal udah cukup barbar. Dikucek, kenak air wudhu bolak balik.


Ngga ada klaim waterproof, tapi kalau pudar juga ngga sampe beleber. Ngga smudge sama sekali sih menurut pengamatanku. Sopan lah hilangnya. Perlahan dan rapi.


Masih Agak Lengket Untuk Bentuk Mata Tertentu


Untuk mata downturned/hooded, kalau diaplikasiin tebal jadi terasa lengket. Namun kalau mata yang round sih nggak.


Karena mataku tipe keduanya. Iya beda bentuk beb (mata kiri round -kanan downturned dan agak hooded) jadi aku ngerasa perbedaannya.


Ngatasin lengketnya sih tinggal di tunggu aja sampe kering bener, baru deh boleh agak bebas kalau mau ngedip.





Conclusion


Menurutku kecenya sama ya dengan yang sebelumnya aku pakai (Optimum Hi-Black Liner). Imbang. Hanya saja, memang diimprove sesuai zaman dan trend kemunculannya aja.


Rekom sih untuk yang nyari eyeliner lokal kece dan terjangkau. Termasuk nyaman dan enak banget digunakannya. Hasilnya juga rapi dan cantik.


Pros


Kemasaannya cantik


Brushnya tipis


Pigmentasinya good


Cons


Kadang brushnya ganggu sih, geli bok


Repurchase


Maybe yes.


Rate


4 /5


XOXO


Madamabi___

Review: Mother Of Pearl My Lips But Prettier Skin Tint | 07 Pretty Bold

Okeh.. waktunya kita review lipennya mama ayang!! Dari awal kemunculan Mother Of Pearl, aku udah ngebatin "harus coba nih!". At ...